Ad Code

Responsive Advertisement

MAKALAH: MUKJIZAT AL-QUR’AN


DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.............................................................. 2

DAFTAR ISI           3

BAB 1 PENDAHULUAN....................................................... 4

A.    Latar Belakang       4

B.     Rumusan Masalah 5

C.     Tujuan                    5

BAB 2 PEMBAHASAN........................................................... 6

A.    Pengertian Mukjizat .............................................................. 6

B.     Arti Dan Aspek Mukjizat Al-Quran........................................ 7

C.     Bentuk Dan Tahapan Al-Quran.............................................. 12

PENUTUP             17

DAFTAR PUSAKA 18

 

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

"Mukjizat adalah sebuah peristiwa atau urusan luar biasa yang dibarengi dengan tantangan dan tidak bisa dikalahkan. Makalah ini membahas tentang mukjizat Al-Quran. Diantara kemurahan Allah terhadap manusia adalah bahwa Dia tidak hanya menganugerahkan fitrah yang suci yang dapat membimbing mereka kepada kebaikan, tetapi juga dari masa ke masa, Dia mengutus seorang rasul yang membawa kitab sebagai pedoman hidup dari Allah dan mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya semata.

 

Setiap rasul yang diutus tidak hanya membawa kitab yang berisi kabar gembira dan peringatan, tetapi Allah juga memberikan mereka berbagai mukjizat untuk membantu mengatasi kesulitan dan tantangan dari masyarakat yang menolak risalahnya sesuai dengan tingkat dan pola pikir masyarakatnya."Nabi Muhammad Saw., diutus ketika masyarakat Arab ahli dalam bahasa dan sastra. Dimana-mana diadakan musabaqah (perlombaan) dalam menyusun syair atau khutbah, petuah dan nasehat. Syair-syair yang dinilai indah, digantung dika’bah sebagai penghormatan kepada penggubahnya sekaligus untuk dapat dinikmati oleh yang melihat dan membacanya. Penyair mendapat kedudukan yang sangat istimewa dalam masyarakat Arab.

"Pada saat turunnya Al-Quran, sebenarnya orang-orang Arab merupakan masyarakat yang paling mengetahui tentang keunikan dan keistimewaan Al-Quran, serta ketidakmampuan mereka untuk menyusun sesuatu yang serupa. Namun, di antara mereka ada yang tidak mengakuinya; bahkan, suatu kali mereka menyatakan bahwa Al-Quran adalah syair, sihir ulung, atau pendukunan. Oleh karena itu, Al-Quran datang menantang mereka untuk menyusun sesuatu yang setara dengan Al-Quran.

Ternyata, mereka tidak mampu menyusun karya yang seindah dan sebersastra tinggi seperti Al-Quran, sehingga kemukjizatan Al-Quran menjadi jelas. Untuk mengkaji lebih lanjut tentang mukjizat Al-Quran, makalah ini akan membahas pengertian mukjizat, bentuk dan tahapan tantangan Al-Quran, arti serta aspek kemukjizatan Al-Quran, dan ditutup dengan suatu kesimpulan.".

 

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat diketahui bahwa rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut:

a)      Apa pengertian dari mukjizat.

b)      Bagaimana cara memahami arti dan aspek dari mukjizat Al-Quran.

c)      Bagaimana bentuk dan tahapan tantangan Al-Quran.

C.    Tujuan

Adapun tujuan kami menulis makalah ini adalah:

a)      Mengetahui pengertian dari mukjizat.

b)      Memahami arti dan aspek dari mukjizat Al-Quran.

c)      Mengetahui bentuk dan tahapan tantangan Al-Quran.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.                                                            PENGERTIAN MUKJIZAT

 

Mukjizat berasal dari Bahasa arab yaitu عجز -ِ yang berarti lemah kemudian diatambahlan alif dibekakang ‘ain sehingga menjadi اعجز-يعجز yang berarti melemahkan. Sehingga, apabila di tasrifkan menjadi pelaku akan bertemu dengan معجزة . Dalam kamus Mahmud yunus mukjizat berarti pekerjaan luar biasa manusia lain tidak sanggup membuatnya. Dengan kata lain pelaku (yang melemahkan) disebut mukjizat, dan bila kemampuannya dalam melemahkan orang lain begitu menonjol sehingga mampu membungkam lawan disebut mukijizat.Tambahan ta marbuthah (ة) pada akhir kata mengandung makna mubalaghah (superlatif).

"Mukjizat didefinisikan oleh pakar agama Islam sebagai 'suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantang kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu'. Adapun ilmu yang mempelajari kemukjizatan Al-Quran dinamai 'Ilmu I’jazil Quran'.

"Namun, apabila hal tersebut terjadi pada manusia biasa, tidaklah disebut sebagai mukjizat. Jika kejadian tersebut terjadi pada orang soleh, maka disebut sebagai karomah. Sedangkan, jika terjadi pada orang jahat, disebut sebagai sihir.

 

Selain itu, penamaan suatu peristiwa sebagai mukjizat harus memenuhi syarat-syarat yang telah diungkapkan oleh para ulama, yaitu sebagai berikut:

1. Peristiwa yang hanya mampu diciptakan oleh Allah SWT.

2. Peristiwa yang aneh dan keluar dari hukum alam.

3. Adanya saksi atau dalil kebenaran pengakuan seseorang sebagai rasul.

4. Kesesuaian dengan pengakuan nabi yang menantang dengan mukjizatnya, dalam arti mukjizatnya tidak bertentangan dengan tantangannya.

5. Tidak ada yang dapat menandinginya.

 

Apabila peristiwa luar biasa tersebut telah mencakup kelima syarat di atas, maka dapat dikategorikan sebagai mukjizat yang harus diyakini kebenarannya.".

 

B.     ARTI DAN ASPEK MUKJIZAT AL-QURAN

Para ulama, muktazilah dan ulama-ulama kalam sepakat bahwa Al-Quran merupakan mukjizat. Mukjizat Al-Quran mengandung arti bukti kebenaran yang terkandung dalam Al-Quran yang bersifat internal bukan faktor eksternal. Kemukjizatan Al-Quran bukan semata-mata untuk melemahkan manusia atau menyadarkan mereka atas kelemahannya untuk membuat semisal Al-Quran, melainkan menjelaskan kebenaran Al-Quran dan Rasul yang membawanya.

Namun, Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang apa saja yang menjadi mukjizat Al-Quran. Sebagian mengatakan bahasanya dan kandungannya, sebagian lagi mengatakan bahkan satu hurufnya saja merupakan mukjizat kandungannya terhadap teori-teori ilmiah. Az-zarkasyi mengemukakan berbagai pendapat twntang hal itu:

1)      Pendapat Al-Zamalkani menyatakan bahwa bentuk kemukjizatan Al-Quran terletak pada susunannya yang khusus. Ia tidak seperti susunan yang umum.

2)      Al-Quran berisi berita-berita gaib yang akan datang. Hal ini seperti di luar dari kebiasaan orang Arab. Pendapat ini tertolak karena ia menetapkan ayat yang tidak demikian tidak ada daya 'l'jâz-nya, padahal Allah telah menjadikan setiap surat mukjizat.

3)      Pendapat jumhur dan disahihkan oleh Ibn 'Athiat bahwa Al-Quran memiliki lafazh yang tinggi dan makna yang sempurna. Dengan kata lain, susunan Al-Quran datang dalam puncak kefasihannya. Al-Quran datang dari Allah yang agung ilmu-Nya. Untuk itu, tidak dapat didatangkan yang sepertinya. Adapun imam Fakhruddin Ar-Razi juga menyebut kemukjizatannya itu meliputi kefasihannya, uslub-nya yang aneh, dan jauh dari cacat. Semua itu dikaitkan dengan serangan/ tantangan.

4)      Hazim memilih segi fashahat dan balaghah Al-Quran seluruhnya secara berkesinambungan tanpa suatu selang. Hal serupa itu tidak mungkin terjadi pada manusia.

5)      Al-Khaththabi menyebut segi balaghah. Al-Quran mengambil masing-masing dari ketiga tingkat perkataan yang baik (tertinggi yang baligh, sedang yang fasih dan terendah yang lancar) maka dari percampuran itu tersusunlah suatu jenis perkataan yang mengumpulkan yang antara sifat sulit dengan lancar, hati-hati dengan mudah. Perpaduan seperti itu adalah kelebihan dan kekhususan untuk Al-Quran.

6)      Pendapat para muhaqqiq bahwa kemukjizatan Al-Quran terjadi dengan seluruh pendapat yang dikemukakan dan tidak dengan sendiri- sendiri; misalnya ketakutan yang menyelinap di hati orang yang mendengarkannya, mukmin atau bukan mukmin; Al-Quran merupakan sesuatu yang baru dan segar pada pendengaran dan lidah pembacanya; ia memadukan dua sifat pembicaraan yang berbeda, yakni sifat hati-hati dan tawar (Al-Jazalat wa al-'azubat).

Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa aspek atau sisi kemukjizatan Al-Quran ini adalah salah satu hal yang sangat variative.

Menurut M.Quraish Shihab, mukjizat Al-Quran dapat ditinjau dalam tiga aspek[1], yaitu:

1.      Ditinjau dari aspek kebahasaan

                                                Gaya bahasa Al-Qur’an banyak membuat orang arab saat itu kagumdan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak manusiamasuk islam. Bahkan, Umar bin Khatab pun yang mulanya dikenal sebagaiseorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW. dan bahkan berusaha untuk membunuhnya, ternyata masuk islam dan beriman kepada kerasulanMuhammad hanya karena mendengar petikan Al-Qur’an.. susunan Al-Qur’an tidak dapat disamai oleh karya sebaik apapun.

Susunan kalimat dalam Al-Quran singkat dan padat tetapi sarat makna. Bahkan, Quraish mengemukakan bahwa dalam aspek kebahasaan, Al-Quran dapat memuaskan para pemikir dan orang kebanyakan, mamuaskan akal dan jiwa,dan memiliki keindahan dan kertepatan makna yang tiada tandingan.

2.      Ditinjau dari aspek isyarat ilmiah

Kemukjizatan al-Qur‟an di bidang isyarat-isyarat ilmiah. Pemahaman tentang mukjizat ini, harus dikaitkan dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan isyarat-isyarat ilmiah yang terkandung di dalam al-Qur‟an, pada saat proses turunnya tidak ada yang memahaminya. Ada beberapa contoh mukjizat di bidang ini, seperti:

·         Adanya isyarat ilmiah tentang perbedaan sidik jari pada tiap-tiap manusia, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam firman Allah SWT. Q.S. al=Qiyâmah [75]:4.

بَلٰى قَادِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَه

“Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna”.

·         Teori Kesatuan Alam (al-Anbiyā :30)

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ◌

                                “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, Kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.

·          Dinding pemisah air sungai dengan air laut (Qs.Al-Furqan 53)

وَهُوَ الَّذِيْ مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَّهٰذَا مِلْحٌ اُجَاجٌۚ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَّحِجْرًا مَّحْجُوْرًا

“Dan dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang Ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”.

 

Dan masih banyak sekali isyarat Ilmiah yang ditemukan dalam al-Qur’an.

 

3.      Ditinjau dari aspek pemberitaan ghaib

Segolongan ulama menyatakan bahwa kei’jazan Al-Qur’an ialah dalam mengabarkan hal-hal yang gaib yang hanya diperoleh dengan jalan wahyu urusan-urusan yang telah lalu yang tidak diterangkan oleh seorang yang ummi dan tidak mempelajari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada umat-umat yang telah lalu dan tidak pula bergaul dengan ahli kitab.

Al-Quran juga menerangkan kabar-kabar gaib masa depan. Kabar-kabar gaib tentang masa depan di dalam Alqur­­an juga banyak dibuktikan. Fakta sejarah setidaknya mencatat kebenaran kabar-kabar gaib tersebut. Kabar-kabar gaib tentang masa depan di dalamAl-Quran banyak dibuktikan. Fakta sejarah setidaknya mencatat kebenaran kabar-kabar gaib tersebut. Allah berfirman dalam Q.S. Ar-Rum ayat 1-5: 

الم◌ غُلِبَتِ ٱلرُّومُ◌ فِىٓ أَدْنَى ٱلْأَرْضِ وَهُم مِّنۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ◌ فِى بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ ٱلْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِنۢ بَعْدُ  وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ ٱلْمُؤْمِنُونَ◌ بِنَصْرِ ٱللَّهِ ۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ◌

Alif lam mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat; dan mereka setelah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun (antara tiga sampai sembilan tahun). Bagi Allah ketetapan urusan sebelum dan sesudah (mereka menang), dan di hari (kemenangan) itu orang-orang Mukmin bergembira. Karena pertolongan Allah. Allah menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dia Mahaperkasa, lagi Mahapenyayang”

 

Dijelaskan bahwa pada abad kelima dan keenam Masehi, terdapat dua adikuasa. Yakni Romawi yang beragama Kristen dan Persia yang menyembah api. Persaingan antara keduanya terjadi guna merebut wilayah dan pengaruh. Saking kerasnya, bahkan peperangan antara keduanya tak terelakkan.

Sejarawan menginformasikan pada 614 Masehi terjadi peperangan antara kedua adikuasa itu yang berakhir dengan kekalahan Romawi. Ketika itu kaum musyrik Makkah mengejek kaum Muslim yang cenderung mengharapkan kemenangan Romawi yang beragama Samawi itu atas Persia yang menyembah api.

Maka demikian, turunlah ayat tersebut dalam Surah Ar-Rum. Tujuannya guna menghibur kaum Muslim tentang dua hal. Pertama, Romawi akan menang atas Persia pada tenggat waktu yang diistilahkan oleh Alquran. Kedua, saat kemenangan itu tiba.

Kabar tersebut ternyata benar adanya. Pada 622 Masehi, terjadi lagi peperangan antara Romawi dengan Persia. Dan kali ini, Romawi memenangkan peperangan tersebut sebagaimana catatan sejarah.

 

C.    BENTUK DAN TAHAPAN TANTANGAN AL QURAN

Tantangan yang datang dari al-Quran terdiri dari dua bentuk, yaitu:

1)   Tantangan umum

Tantangan ini ditujukan kepada semua golongan, baik kaum filosof, cendikiawan, ulama, dan hukama, serta semua manusia tanpa kecuali, orang Arab atau orang Ajam, orang putih atau orang hitam, mukmin atau kafir. Hal ini dijelaskan Allah dalam al-Quran surat al-Isra’ ayat 88.

2)   Tantangan khusus

Tantangan ini ditujukan khusus kepada orang-orang Arab, terutama bagi orang-orang kafir Quraisy. Tantangan bertanding khusus ini terbagi atas dua macam, yaitu :

·                                                            Tantangan yang bersifat kulli (keseluruhan), yaitu tantangan dengan seluruh al-Quran mengenai hukum-hukumnya, keindahan bahasanya, balaghahnya dan kejelasannya. Hal ini dijelaskan Allah dalam surat al-Thuur ayat 34.

·                                                             Tantangan yang bersifat juz’i (sebagian), yaitu tantangan untuk mendatangkan sepuluh surat atau satu surat saja yang menyerupai surat-surat al-Quran. Hal ini sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Hud ayat 13 dan surat al-Baqarah ayat 23.[18] Adapun tahapan-tahapan tantangan al-Quran adalah sebagai berikut:

Pertama, Allah menantang untuk membuat semacam “keseluruhan al-Quran”, sebagaimana dipahami dari surat al-Thuur ayat 34,

فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ (الطور: 34)


“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Quran itu jika mereka termasuk orang-orang yang benar.”

 

Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa ketika ayat ini turun untuk menantang orang-orang kafir Quraisy yang meragukan dan menolak kebenaran al-Quran, maka mereka berdalih “kami tidak mengetahui sejarah umat terdahulu” (yang merupakan sebagian kandungan al-Quran).

Adapun yang dimaksud dengan kalimat بحديث (bihadiitsin) dalam ayat diatas adalah tandingan al-Quran, namun ternyata mereka tidak mampu mendatangkan sesuatu yang menyamai al-Quran.

Kedua, Allah meringankan tantangan, yaitu menantang untuk membuat sepuluh surat saja yang menyamai al-Quran, sebagaimana dinyatakan Allah Swt., dalam surat Hud ayat 13,

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (هود:13)

“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat al-Quran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka datangkanlah sepuluh surat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Kata مفتريات (muftarayaat) yang diterjemahkan dengan “dibuat-buat” dalam ayat diatas adalah tudingan orang-orang kafir Quraisy terhadap nabi Muhammad Saw., bahwa al-Quran itu dibuat-buat, oleh karenanya Allah menantang, kalaupun al-Quran itu dibuat-buat (bohong), jikalau mereka mampu menyusun redaksi seindah dan seteliti al-Quran maka itu sudah cukup untuk mengakui kebenaran dugaan mereka, tetapi tantangan kedua inipun tidak sanggup mereka layani.

Ketiga, Allah meringankan lagi tantangan, yaitu tantangan untuk membuat satu surat saja yang menyamai al-Quran, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. yunus: 38

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (يونس:38)

“Atau patutkah mereka berkata, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya?”, Katakanlah (kalau benar tuduhan kamu itu), maka buatlah satu surah semacamnya dan panggillah siapapun yang dapat kamu panggil selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.”

Tiga tahapan tantangan tersebut semuanya disampaikan ketika nabi Muhammad Saw., masih berada di Mekkah.

Keempat, Ketika nabi sudah hijrah ke Madinah Allah menantang kembali dengan tantangan yang lebih ringan lagi yaitu membuat satu surat yang hampir sama dengan al-Quran, sebagaimana dapat dipahami dalam surat al-Baqarah ayat: 23

 

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (البقرة: 23)


“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surat yang seumpamanya dan panggillah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.”

 

Ayat 23 yang terdapat dalam surat al-Baqarah ini mirip redaksinya dengan ayat 38 dalam surat Yunus. Perbedaannya antara lain pada kalimat (fa’tuu bisuuratin mitslihi dan fa’tuu bisuuratin min mitslihi). Kata من (min) disini diartikan “lebih kurang”, sehingga dengan demikian tantangan ini lebih rendah daripada tantangan sebelumnya yang menuntut membuat satu surah tanpa menggunakan kata من(min) atau “lebih kurang”.

Memang sejak semula Allah telah menegaskan bahwa siapapun dan kapanpun al-Quran tetap menjadi mukjizat dan tidak dapat ditandingi. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah dalam Q.S. Al-Isra’: 88,

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا(الإسراء: 88)

“Katakanlah (hai Muhammad): Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88).

 

Dengan demikian jelaslah bahwa tahap demi tahap tantangan al-Quran, ternyata tidak seorangpun sanggup untuk memenuhi tantangan tersebut, terutama orang-orang Arab kafir Quraisy yang dengan terang-tarangan tidak menerima kebenaran al-Quran. Dengan demikian jelaslah mukjizat al-Quran yang benar-benar diwahyukan Allah untuk nabinya Muhammad Saw., yang ummi.[2]

.

 

 

 


 

PENUTUP

 

Kesimpulan

Mukjizat didefenisikan oleh pakar agama islam, antara lain sebagai “suatu hal atau peristiwa luar bisa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka dak mampu melayani tantangan itu”

Muktazilah dan ulama-ulama kalam sepakat bahwa Al-Quran merupakan mukjizat. Namun, Terdapat banyak perbedaan pendapat tentang apa saja yang menjadi mukjizat Al-Quran. Sebagian mengatakan bahasanya dan kandungannya, sebagian lagi mengatakan bahkan satu hurufnya saja merupakan mukjizat kandungannya terhadap teori-teori ilmiah.

Tantangan yang datang dari al-Quran terdiri dari dua bentuk. Yaitu, Tantangan umum ditujukan kepada semua golongan, baik kaum filosof, cendikiawan, ulama, dan hukama, serta semua manusia tanpa kecuali, orang Arab atau orang Ajam, orang putih atau orang hitam, mukmin atau kafir.Kemudian, Tantangan khusus yang ditujukan kepada orang-orang Arab, terutama bagi orang-orang kafir Quraisy.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

M.Quraish Shihab, Mukjizat al-quran : Ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib, (Bandung: mizan, 1998).

Prof.Dr.Rachmat Syafie’I, Lc., M.A., ILMU TAFSIR, (Bandung: CV PUSTAA SETIA, 2016).

M.Quraish Shihab, Mukjizat al-quran : Ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib, (Bandung: mizan, 1998).

https://www.anekamakalah.com/2012/02/mukjizat-al-quran.html.



[1] M.Quraish Shihab, Mukjizat al-quran : Ditinjau dari aspek kebahasaan, isyarat ilmiah, dan pemberitaan gaib, (Bandung: mizan, 1998).

Posting Komentar

0 Komentar